Growth Strategy, Industry Insight, UX Design & Research

Mengapa Produk Digital Gagal dan Bagaimana Concierge MVP Mencegahnya

Pendekatan yang tepat untuk mengukur produk/layanan dengan lebih cepat

concierge MVP
Bernardus Aji
Bernardus Aji
Linkedin
Senior UX Researcher

I am a Researcher with 3+ years of Academic and Practical field experience. I led Product/Business teams to establish awareness of the importance of user research in numerous industries. I specialize in conducting Survey Design, Workshop Facilitation, Usability/Concept Testing, Low-middle Socioeconomic User Research and Information Architecture Validation in Moderated or Unmoderated settings.For me, the research process is all about creating deliverables into good storytelling.

I am a Researcher with 3+ years of Academic and Practical field experience. I led Product/Business teams to establish awareness of the importance of u... Show more

Table of Content

Oleh karena perkembangan produk digital yang kian meluas, adalah hal yang umum bagi pemilik bisnis untuk merasa perlu membuat produk digital dengan cepat, seperti aplikasi atau website.

Namun, sikap buru-buru ini sering kali terjadi tanpa sepenuhnya memahami pasar, yang dapat menimbulkan kendala. Saya ingin menunjukkan bagaimana kami mengatasi dilema ini secara efektif, tetapi pertama-tama ada hal yang perlu kita kupas bersama…

Mengapa Produk Digital Cenderung Gagal?

Ketidakpastian Pasar: Startup sering kali tidak memiliki pemahaman yang jelas mengenai pasar mereka. Tanpa riset pasar yang memadai, mereka mengembangkan produk yang tidak selaras dengan kebutuhan pelanggan, yang menyebabkan adopsi yang buruk dan menyebabkan kegagalan.

Pendekatan “Just Do It”: Bereaksi terhadap manajemen tradisional, beberapa pengusaha mengadopsi pendekatan yang cukup berantakan dan tidak terstruktur, percaya bahwa manajemen apa pun adalah kontraproduktif. Hal ini sering kali menghasilkan upaya yang tidak terorganisir dan sumber daya yang terbuang sia-sia.

Kegagalan untuk Memvalidasi Asumsi: Banyak startup yang melewatkan langkah penting dalam memvalidasi core assumptions mereka tentang pasar dan kebutuhan pelanggan. Kelalaian ini dapat menyebabkan pengembangan produk yang meleset dari kebutuhan.

Mengabaikan Lean Principles: Lean Principles menekankan pada pengembangan berulang dan feedback dari pelanggan. Startup yang mengabaikan prinsip-prinsip ini sering kali berakhir dengan produk yang tidak sesuai dengan pasar, karena belum disempurnakan melalui siklus feedback dan penyesuaian.

Ada banyak hal yang harus dilakukan sebelum kita bisa mendapatkan ‘lampu hijau’ untuk mengembangkan produk kita, yang terkadang membuat produk digital terasa sangat tidak terstruktur dan berantakan. Proses pengembangan membutuhkan waktu yang lama, tetapi ada juga solusi untuk menyederhanakan semuanya.

Concierge MVP

Concierge MVP

Salah satu strategi yang efektif untuk mengatasi masalah ini adalah Concierge MVP (Minimum Viable Product). Pendekatan ini melibatkan penyediaan layanan manual dengan sentuhan tinggi kepada sekelompok kecil pelanggan untuk menguji dan memvalidasi ide produk.

Dengan berinteraksi langsung dengan pelanggan, startup dapat mengumpulkan feedback yang terperinci dan lebih memahami kebutuhan mereka. Di sini, Concierge MVP diposisikan di jalan tengah antara pendekatan ‘Just Do It‘ yang tidak terstruktur dan berantakan dan pendekatan ‘proses panjang’. Dengan demikian, ini bisa menjadi strategi yang saling menguntungkan.

Dari Interaksi Langsung dengan Pelanggan hingga Jadi Produk Digital

Sebagai contoh, pada tahun 2011, Manuel Rosso, CEO Food on the Table, memulai bisnisnya dengan bertemu langsung dengan pelanggan pertamanya, memilih resep secara manual, dan membuat daftar belanjaan berdasarkan preferensi mereka.

Pendekatan langsung ini memungkinkan beliau dan timnya untuk memahami secara mendalam kebutuhan pelanggan dan menyempurnakan layanan mereka secara berulang-ulang.

Awalnya, mereka hanya mendukung satu toko kelontong dan tidak mengembangkan software, dengan fokus sepenuhnya pada pembelajaran dari interaksi langsung dengan pelanggan.

Melalui metode ini, mereka memvalidasi model bisnis mereka dan secara bertahap memperkenalkan otomatisasi setelah memahami kebutuhan pelanggan dan memastikan permintaan. Pendekatan yang lean ini meminimalisir pemborosan dan memastikan bahwa pengembangan produk selaras dengan kebutuhan customer yang sebenarnya, yang pada akhirnya mengarah pada layanan yang dapat diskalakan.

Cara Mulai Memvalidasi Produk/Konsep dengan Concierge MVP

Bayangkan perusahaan Anda sedang mengembangkan produk untuk pemesanan perbaikan mobil di area tertentu. Alih-alih langsung membangun desain Hi-Fi yang rumit, mengembangkan sistem backend, atau mengadakan workshop yang panjang, Anda dapat menguji konsep bisnis secara langsung. Gunakan alat bantu sederhana seperti WhatsApp for Business untuk berinteraksi dengan calon pelanggan dan mengumpulkan umpan balik cepat dari mereka.

Atau, jika Anda berasal dari sektor Perbankan atau Pembiayaan, Anda dapat dengan mudah menggunakan Tim Sales atau Relationship Manager untuk menguji ide bisnis atau produk Anda.

Platform atau aplikasi digital hanyalah “perantara” untuk layanan yang Anda tawarkan, jadi fokuslah untuk menguji konsep atau proposisi nilai, alih-alih terobsesi dengan platform yang ingin dibangun oleh tim Anda.

Learn First, Code Last

Untuk membuat Concierge MVP, mulailah dengan berfokus pada core value produk Anda. Identifikasi masalah utama yang dipecahkan oleh produk Anda dan manfaat utama yang ditawarkan kepada pelanggan. Persiapkan dasar-dasarnya: alih-alih membangun produk yang lengkap, gunakan alat sederhana seperti spreadsheet, email, atau aplikasi perpesanan untuk memberikan layanan Anda secara manual.

Terlibat langsung dengan sekelompok kecil pelanggan, kumpulkan feedback yang mendetail, dan sempurnakan Value Proposition Anda berdasarkan kebutuhan dan tanggapan mereka. Pendekatan langsung ini memungkinkan Anda untuk memvalidasi konsep Anda dengan cepat dan efisien tanpa investasi awal yang signifikan dalam teknologi.

Concierge MVP

Kapan Perlu Menggunakan MVP Concierge?

  • Ketika Validasi Ide Awal: Uji apakah Value Proposition Anda beresonansi dengan pelanggan sebelum membangun produk berskala penuh
  • Ketika Interaksi Pelanggan Tinggi: Ideal untuk layanan yang membutuhkan personalisasi dan umpan balik pelanggan yang terperinci
  • Ketika Eksplorasi Pasar Baru: Dapatkan insights tentang pasar yang belum dipetakan atau tidak pasti tanpa investasi yang besar
  • Ketika Layanan yang Dimiliki Kompleks: Memvalidasi berbagai komponen layanan yang kompleks melalui interaksi langsung
  • Ketika Ada Kendala Sumber Daya: Berguna ketika Anda memiliki anggaran dan waktu yang terbatas, sehingga memungkinkan pembelajaran dan pengulangan yang cepat.

Kapan Untuk Tidak Menggunakan MVP Concierge?

  • Terdapat Sistem yang Sangat Terintegrasi: Tidak praktis untuk layanan yang sangat mengandalkan integrasi sistem dan otomatisasi yang kompleks
  • Ketika Harus Ada Skalabilitas Langsung: Tidak cocok jika model bisnis Anda membutuhkan penskalaan cepat dan basis pengguna yang besar
  • Interaksi Pelanggan Rendah: Tidak efektif untuk produk yang sebagian besar bersifat otomatis atau swalayan
  • Adanya Kendala Regulasi: Cukup menantang untuk digunakan dalam industri dengan persyaratan peraturan yang ketat dan terdapat masalah keamanan data
  • Ketika Pasar Sudah Mapan: Kurang berguna di pasar dengan kebutuhan pelanggan yang dipahami dengan baik dan persaingan yang kuat

Kesimpulan

Pendekatan MVP terbaik bergantung pada tiga faktor utama: sifat produk Anda, target pasar Anda, dan validasi spesifik yang Anda cari. Setiap metode MVP memiliki kekuatannya masing-masing, jadi pertimbangkan faktor-faktor ini dengan cermat untuk memilih yang terbaik untuk produk Anda.

Dengan kombinasi riset pengguna tahap awal, Concierge MVP dapat menjadi alternatif untuk memvalidasi ide produk Digital Anda dari pengguna sedini mungkin.

Share project link:
Other Blogs
Pelokalan
Bagaimana Pilihan Kata Bisa Merusak atau Mempercantik Pelokalan (Localization)

Setelah lama berkecimpung di dunia Content Writing, Copywriting, dan UX writing, saya menyadari betapa pentingnya pemilihan....

above the field
Bagaimana “Above the Fold” Mempengaruhi User Experience dalam Website Desain

Kamu mungkin pernah mendengar istilah Fold atau lipatan dalam website atau UX Design. Fold sendiri mengacu pada bagian halaman website yang langsung....

5 Tips untuk Mendelegasikan Pekerjaan Secara Efektif Bagi Para Manajer Baru

Para manajer wajib memiliki kemampuan untuk mendelegasikan pekerjaan. Delegasi sendiri merupakan kemampuan vital yang mungkin bagi....